Minggu, 09 Agustus 2009
Mbah H Abdusshomad atau Lurah Soeroredjo wafat
Pada tahun 1920-an, H. Oesman beserta keluarganya (termasuk ayahnya Lurah Soeroredjo) berangkat ke tanah suci untuk menunaikan ibadah haji. Rombongannya sampai berjumlah 13 orang, ada yang mengatakan berjumlah 16 orang, 17 orang, bahkan ada yang mengatakan sampai 25 orang. Dalam perjalanan pulang, sang ayah tercinta yang nama aslinya PODIRAN (Ki Demang SOEROREDJO) diganti dengan H ABDUSSHOMAD sakit hingga menemui wafatnya. Makam beliau berada di Ondrust (kepulauan seribu).
PODIRAN bergelar SOEROREDJO
Hubungan Mbah Haji Umar dengan Podiran semakin akrab. Hal ini disebabkan ketaatan Podiran kepada ajaran-ajaran Islam. Ditambah lagi dengan budi pekerti yang baik membuat Podiran semakin disegani masyarakat sekitar
Keduanya, meski Mbah H Oemar santri dan Podiran abangan, tapi tidak bisa dipungkiri, sosok Mbah H Oemar sangat mempengaruhi jiwa Podiran. Dan bahkan bagi kelangsungan hidup Podiran selanjutnya. Pada akhirnya, PODIRAN terpilih sebagai lurah dan bergelar SOEROREDJO.
Sebagai seorang lurah, kesan atau bahkan cap abangan sedikit demi sedikit dikikis oleh Mbah Soeroredjo. Hal ini sangat mungkin terjadi karena beliau datang dan menetap di Kolak berkat hubungan dan bimbingan ilmu dari Mbah H Oemar, sehingga kalau ada yang menyimpang dari ajaran Islam, Mbah H Oemar langsung mengingatkan. Inilah posisi sebenarnya seorang ulama' seperti Mbah H Oemar. Bukan ulama' yang tunduk pada pejabat lurah atau pemerintah, tapi sebaliknya pemerintah harus mengikuti ulama' terutama dalam mengatur masyarakat.
Di samping Mbah Soeroredjo membuktikan diri untuk menghapus cap abangan dengan cara mendidik putra-putrinya kepada pelukan Islam. Pelajaran-pelajaran umum tentu tidak dikesampingkan oleh Mbah Soeroredjo, tapi tidak melupakan pelajaran agama. Secara ketat, Mbah Soeroredjo mengharuskan anak-anak supaya ngaji. Bahkan salah seorang anaknya dikirimkan ke pondok Tebuireng Jombang.
Ceritanya, ketika itu Lurah Soeroredjo pergi ke Tebuireng dalam rangka berdagang kuda. Ketika bertemu dengan hadrotussyaikh KH Hasyim Asy'ari, beliau sangat terkesan dan takjub. Mbah Soeroredjo terkesan dan berkata dalam hati ketika melihat hadrotussyaikh KH Hasyim Asy'ari turun dari mengaji untuk menemuinya.
Sejak saat itulah Lurah Soeroredjo berikrar dalam hati, "Inilah orang tua yang dapat dialap berkah ilmunya." Itulah sekilas gambaran ketertarikan Lurah Soeroredjo
akan ajaran Islam yang berlanjut pada pendidikan untuk putra-putrinya sampai dewasa, ini dibuktikan dengan memondokkan putra ketiganya Moelyo ke Tebuireng Jombang.
Keduanya, meski Mbah H Oemar santri dan Podiran abangan, tapi tidak bisa dipungkiri, sosok Mbah H Oemar sangat mempengaruhi jiwa Podiran. Dan bahkan bagi kelangsungan hidup Podiran selanjutnya. Pada akhirnya, PODIRAN terpilih sebagai lurah dan bergelar SOEROREDJO.
Sebagai seorang lurah, kesan atau bahkan cap abangan sedikit demi sedikit dikikis oleh Mbah Soeroredjo. Hal ini sangat mungkin terjadi karena beliau datang dan menetap di Kolak berkat hubungan dan bimbingan ilmu dari Mbah H Oemar, sehingga kalau ada yang menyimpang dari ajaran Islam, Mbah H Oemar langsung mengingatkan. Inilah posisi sebenarnya seorang ulama' seperti Mbah H Oemar. Bukan ulama' yang tunduk pada pejabat lurah atau pemerintah, tapi sebaliknya pemerintah harus mengikuti ulama' terutama dalam mengatur masyarakat.
Di samping Mbah Soeroredjo membuktikan diri untuk menghapus cap abangan dengan cara mendidik putra-putrinya kepada pelukan Islam. Pelajaran-pelajaran umum tentu tidak dikesampingkan oleh Mbah Soeroredjo, tapi tidak melupakan pelajaran agama. Secara ketat, Mbah Soeroredjo mengharuskan anak-anak supaya ngaji. Bahkan salah seorang anaknya dikirimkan ke pondok Tebuireng Jombang.
Ceritanya, ketika itu Lurah Soeroredjo pergi ke Tebuireng dalam rangka berdagang kuda. Ketika bertemu dengan hadrotussyaikh KH Hasyim Asy'ari, beliau sangat terkesan dan takjub. Mbah Soeroredjo terkesan dan berkata dalam hati ketika melihat hadrotussyaikh KH Hasyim Asy'ari turun dari mengaji untuk menemuinya.
Sejak saat itulah Lurah Soeroredjo berikrar dalam hati, "Inilah orang tua yang dapat dialap berkah ilmunya." Itulah sekilas gambaran ketertarikan Lurah Soeroredjo
akan ajaran Islam yang berlanjut pada pendidikan untuk putra-putrinya sampai dewasa, ini dibuktikan dengan memondokkan putra ketiganya Moelyo ke Tebuireng Jombang.
Sabtu, 08 Agustus 2009
MOELJO bin PODIRAN
Mbah Podiran, ayah Moelyo adalah seorang pendatang berasal dari Desa Gadungan Pare. Tingkat ekonomi masyarakat di desa ini kurang makmur, minimal dalam pikiran Podiran. Dalam kehidupan sehari-hari masih dirasa kurang cukup terutama untuk memenuhi kehidupan keluarganya. Oleh karena itu, terbersit dalam pikirannya untuk mengembara. Akhirnya Mbah Podiran boro, atau pergi keluar daerah untuk bekerja tepatnya, Kota Surabaya.
Dalam masa-masa selanjutnya, ketika sampai di Surabaya, Mbah Podiran bertemu dengan seorang ulama' yang bernama Mbah H Oemar bin Pragoto suami dari Mbah Muntomimah binti Mbah H. Sholeh Rantanu. Ketika H Oemar melihat keuletan Podiran, lalu akhirnya beliau mengajak Podiran ke Kolak yang saat itu gong nyantri (abangan). Ketika sampai di dusun Kolak, Podiran dididik dan diajarkan tentang ilmu-ilmu agama. Sejak saat itu, Podiran menjadi santri muallafnya Mbah H Oemar. Selanjutntya, Mbah H Oemar memberi sepetak tanah untuk tempat tinggal Mbah Podiran. Tempat tinggal tersebut sekarang menjadi dalem KH Dlofir Ismail.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Podiran muda bekerja sebagai bajingan (tukang nyikar) pada salah seorang juragan telo. Karena tekad yang bulat dalam bekerja si Podiran naik pangkat diambil mantu oleh juragannya (nama juragan ini tidak ditemukan data-datanya). Podiran akhirnya menikah dengan Roettinah anak sang juragan
Dalam masa-masa selanjutnya, ketika sampai di Surabaya, Mbah Podiran bertemu dengan seorang ulama' yang bernama Mbah H Oemar bin Pragoto suami dari Mbah Muntomimah binti Mbah H. Sholeh Rantanu. Ketika H Oemar melihat keuletan Podiran, lalu akhirnya beliau mengajak Podiran ke Kolak yang saat itu gong nyantri (abangan). Ketika sampai di dusun Kolak, Podiran dididik dan diajarkan tentang ilmu-ilmu agama. Sejak saat itu, Podiran menjadi santri muallafnya Mbah H Oemar. Selanjutntya, Mbah H Oemar memberi sepetak tanah untuk tempat tinggal Mbah Podiran. Tempat tinggal tersebut sekarang menjadi dalem KH Dlofir Ismail.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Podiran muda bekerja sebagai bajingan (tukang nyikar) pada salah seorang juragan telo. Karena tekad yang bulat dalam bekerja si Podiran naik pangkat diambil mantu oleh juragannya (nama juragan ini tidak ditemukan data-datanya). Podiran akhirnya menikah dengan Roettinah anak sang juragan
Langganan:
Postingan (Atom)